Monday, 18 August 2014

Tak Selamanya Kita Bisa Menjadi yang Paling Benar

[Cerita2 yuuk] Cerpen Mengisnpirasi
Tak Selamanya Kita Bisa Menjadi yang Paling Benar

Awan bercampur angin sepoi-sepoi menaungi kota pelajar KOMPELMA Darusalam. Hari yang tepat untuk menyetor tagihan mingguan GAS LPG 3kg. Kebetulan bank favorit yang di sukai para pembisnis Gas adalah BRI. Tanpa berfikir lama saya segera berangkat ke posisi, tepatnya di darusalam pas di tempat gorengan tervaforit di darusalam.

Setiba disana, lansung ambil posisi antri terbelakang. Saat giliran bg ganteng Chairil Kaka kebagian. Saya berkata "Bg stor uang 2.400.000." Hal yang tidak pernah ingin didengar ialah "Maaf dek uangnya gak cukup cuman ada 2.300.000."  
"Waaoooi gila aku". sejenak berfikir dan qu katakan "bang censel aja deh. nantik saya balik lagi"
sambil muka cemberut sang teller berkata "oke lah"

Dengan perasaan yang takut saya pulang menuju baiti jannati, tiba-tiba di tengah perjalanan inspirasi turun dan ia berbisik  "Ka..! uang yang harus disetor kan cuman 2.100.000 bukan 2.400.000". Seketika itu pula setang honda berbalik arah otomatis menuju ke bank BRI.

Sesampai disana dan kembali menatab abang cakep, "bang kirim aja uangnya 2.100.000 bukan 2.400.000." "Oke dek" kata beliau. Dengan mata yang jeli kami bersama-sama menghitung dan ternyata uangnya pas 2.100.000. tak lama kemudian uang lansung di transfer ke toke (bos)

Sambil kebingungan saya bertanya "bang jadi uang 200 ribu lagi mana..?"
"maaf dek saya salah hitung" dengan muka tersenyum sambil menahan rasa malu.

"Oke deh gak pa pa"

#hati_hati kamu berurusang dengan uang bisa-bisa kamu berubah jadi uang. hahaha 'canda'
pesan cerita silahkan disimpulkan sendiri


Filed Under :

0 comments for "Tak Selamanya Kita Bisa Menjadi yang Paling Benar"

Post a Comment

background